Latest Post

Pertanian Organik dan Pertanian Tidak Organik, Apa Bedanya

Written By Unknown on Rabu, 29 Januari 2014 | 01.28

Bahan makanan organik sedang populer di masyarakat kita. Tak heran banyak tanaman organik yang dijual di pasar atau supermarket. Sebenarnya, pertanian organik merupakan cara menanam tumbuhan tanpa menggunakan bahan kimia sehingga tidak merusak kesehatan manusia.
"Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, lingkungan tidak tercemar, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mengurangi erosi akibat pengolahan tanah. Organik itu lebih sehat dan sistem tanamnya berbeda dengan pertanian biasa," kata Tutor Mobil Hijau Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Fidryaningsih Fiona, ditulis Selasa 28/1/2014).

Begini perbedaan sistem penanaman organik dan biasa menurut Fidry yang juga lulusan pendidikan perkebunan dan kehutanan.

1. Persiapan benih
Benih organik berasal dari tanaman alami kalau pertanian biasa benihnya dari hasil persilangan atau rekayasa genetik.

2. Pengolahan Tanah
Karena memakai traktor mesin, tanah pada pertanian biasa menjadi padat dan akibatnya organisme tanah mati. Sedangkan pada pertanian organik pengolahan tanah diminimalkan dengan membiarkan organime tanah tetap hidup sehingga memperkecil risiko kerusakan tanah. 

3. Persemaian atau Persiapan Bibit
Organik dibuat secara alami sementra pertanian biasa dilakukan dengan menyiapkan bibit dan pupuk dari bahan kimia sintetik.

4. Penanaman
Pada pertanian biasa, tanaman hanya sejenis dan tidak ada kombinasi, sementara para pertanian organik ada bermacam jenis tanaman dan ada kombinasi tanaman pendamping serta penataan tanaman.

5. Pengairan
Organik menggunakan air bersih bebas dari bahan kimia, pertanian biasa menggunakan sumber air dari mana saja.

6. Pemupukan
Pertanian biasa menggunakan pupuk kimia sedangkan organik menggunakan pupuk kandang.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pertanian biasa menggunakan pestisida dan zat kimia lainnya sedangkan organik menggunakan pertimbangan alam.

8. Panen
Hasil panen organik bersih dan sehat untuk dikonsumsi sementara hasil panen pertanian biasa biasanya sudah tercemar zat kimia.

Seulangkot Tuloe Seluruh dunia

Written By Unknown on Selasa, 28 Januari 2014 | 05.35

Orang-orangan sawah terdapat hampir di seluruh peradaban agraris di dunia. Akan tetapi bentuk dan spesifikasinya berbeda-beda sesuai dengan kultur kebudayaan masing-masing. 

Nama-nama sebutan bagi orang-orangan sawah diseluruh dunia antara lain; memedi manuk (Jawa), beubeugig (Sunda), kakashi (Jepang), nuffara (Malta), epouvantail (Prancis), spaventapasseri (Italia), espantalho (Portugal), espantapájaros (Spanyol), scarecrow (Inggris), dll.

Seulangkot Tuloe

Orang-orangan sawah adalah replika manusia yang ditempatkan di atas tanah yang tengah dibudidayakan (sawah, kebun, ladang, dll) yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung atau binatang lainnya (hama sawah) agar tidak mematuk atau merusak biji, tunas, serta buah-buahan yang tengah tumbuh di areal itu [1]

Selain berwujud manusia (sesosok petani), varian lain dari orang-orangan sawah adalah patung hewan predator hama sawah seperti burung hantu atau tikus. Orang-orangan sawah merupakan produk universal petani-petani di seluruh dunia karena hampir seluruh peradaban di dunia yang bercocok tanam menggunakan orang-orangan sawah meskipun dengan spesifikasi yang berbeda-beda sesuai dengan lokal wilayah masing-masing.

Khanduri Blang, Sebuah Tradisi di Aceh

BLANG atau dalam bahasa Indonesia disebut “sawah” merupakan sebuah hamparan yang ditumbuhi rumput atau padi. Umumnya, sawah digunakan untuk melakukan kegiatan bercocok tanam. Bagi masyarakat Aceh, sawah merupakan sumber utama perokonomian, di samping sumber penghasil pangan atau makanan pokok.
 
Blang dalam bahasa Aceh sering juga disebut paya, yaitu tempat bercocok tanam khususnya padi. Pengelolaan blang dipimpin oleh seorang yang disebut keujruen blang. Ia memiliki beberapa perangkat, termasuk kelompok-kelompok tani.

Sebuah kebiasaan bagi masyarakat Aceh, sebelum melakukan kegiatan turun ke sawah, terlebih dahulu dilakukan upacara adat yang dikenal dengan keunduri blang. Keunduri atau kanduri blang merupakan salah satu kegiatan adat yang dilakukan setiap akan turun ke sawah.

Keunduri blang merupakan satu dari sekian banyaknya kanduri-kanduri yang berlaku dalam masyarakat Aceh. Ada beberapa kanduri lainnya, seperti kanduri bungong kayee, kanduri rabu abeh/tulak bala, kanduri laot, kaduri gunong, dan lain-lain. Kanduri-kanduri tersebut merupakan warisan leluhur yang dilakukan dengan cara-cara Islami. Secara umum, kanduri ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah swt.

Ada tiga kanduri blang yang dilakukan dengan upacara adat turun ke sawah, yakni kanduri tron u paya, kanduri apam, dan kanduri bu.

Petani Omset 50 M

Cerita soal petani tidak semuanya mengenaskan. Ada pula yang menggembirakan, bahkan membanggakan. Tengok saja H Bambang Sumadji HS, petani dari Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri Jawa Timur. Ia dikenal sebagai petani sukses. Bayangkan, sebulan ia bisa meraup omset Rp 50 milyar!

Memang hasil itu tidak semuanya diperoleh dari hasil pertanian, melainkan juga dari pabrik dan bank. Namun pertanian, utamanya bawang merah dan cabe, tetap menjadi basis utama usaha pria berumur 49 tahun itu.

Sosoknya sebagai petani yang sukses, sangat dikenal luas. Cobalah tanya kepada pedagang di pasar Pare, hampir semua mengenalnya. "Kalau sampean (Anda) ingin informasi lengkap soal bawang merah dan cabe, tanya saja langsung kepada Pak Haji Bambang, karena dia sudah dikenal luas sebagai petani yang sukses dan banyak mensuplai pasar lokal maupun luar daerah," ujar Muhammad Abdullah Zaman (55) maupun Musni (60), pedagang bawang merah di pasar Pare.
Kisah suksesnya dimulai tahun l977. Saat itu, ia mengambil kredit dari Bank BNI sebesar 1,5 juta. Uang itu digunakan menanam bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Hasilnya ternyata sangat baik. Sekali panen 7 ton, dijual dengan harga Rp 150 per kilogram (sekarang Rp 6.000). Dalam satu tahun ia bisa panen tiga kali. Itu artinya ia meraup hasil 3,15 juta rupiah.
"Dari keuntungan itulah sedikit demi sedikit saya mengembangkan pertanian brambang (bawang merah)," ujarnya. Ia tidak hanya memenuhi permintaan pasar lokal, tapi juga memasok ke daerah Indonesia Timur.
Kini protolan tingkat III Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini memiliki lahan 200 hektar, tersebar di Sukomoro Nganjuk dan Sidowarek serta Plemahan, keduanya di Pare.
Tidak cuma bawang merah, Bambang juga menanam cabe seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare.
Dari total lahan pertaniannya itu, ia biasa mengusung 28 ribu ton bawang merah, dua kali panen. Sedang cabe merah, satu hektar menghasilkan 20 ton. Hasil totalnya mencapai 500 ton per tahun.
Ironisnya, meski hasil panen bawang merahnya mencapai ribuan ton, sekarang Bambang tak sanggup lagi mensuplai ke kota-kota Indonesia Timur dan beberapa kota besar di Jawa. Bukan lantaran di kota-kota itu sedang dilanda kerusuhan, atau hasil panennya menurun drastis, melainkan untuk kebutuhan sendiri saja, katanya, ia merasa kewalahan.
Sejak tahun l991, Bambang memang tak lagi menjual bawang merah mentah. Dikemas dengan merek Bagindo, brambang itu digoreng kemudian dilempar ke pasar. "Setiap hari saya membutuhkan pasokan 150 ton brambang mentah," mantan Pengurus Cabang Pelajar Islam Indonesia (PII) Pare itu menjelaskan kebutuhan pabriknya. Melibatkan 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan kecuali pegawai kantor Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta --tiap bulan Bambang menghasilkan 30 ton brambang goreng.
Dengan merek yang sama, selain brambang goreng, pria kelahiran Pelem, Pare, Kediri ini juga memproduksi sambal pecel. Dengan tenaga 50 orang, ia menghasilkan 30 ton sambal pecel per bulan. Untuk produksi sebanyak itu, setiap hari diperlukan pasokan 1 ton kacang tanah.
Untuk memperlancar distribusi hasil pertanian dan pabriknya, pria yang ramah ini menyediakan 20 unit armada angkutan jenis L-300.
Sukses di pertanian dan makanan, mantan pengurus Muhammadiyah Pare ini merambah dunia perbankan. Tahun 1990 ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 'Agro Cipta Adiguna'. Sama dengan usaha pertanian dan makanan, BPR-nya juga sukses. Bahkan pernah terpilih sebagai BPR terbaik tingkat nasional, Desember tahun lalu

Tradisi Masyarakat Bertani

Written By Unknown on Senin, 27 Januari 2014 | 05.36

Dalam sejarahnya hingga hari ini, pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat Aceh , selain beberapa bidang pekerjaan lainnya, seperti peternakan, perikanan (darat dan laut), perdagangan.

Selain kepemilikan pribadi, ada pula mekanisme kepemilikan tanah pertanian (sawah/ladang) bersama yang disebut miliki atau budel, di mana pengelolanya (bisanya kerabat dalam keluarga luas) berhak mengelolanya secara bergantian. Tanah pertanian dengan pengelolaan sejenis ini umumnya merupakan tanah warisan.
gif maker
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. VISI.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger